Disaat kumulai tulisan ini kucoba untuk membuka kembali memoriku 25 Tahun Yang Lalu yakni periode 1986-1989 periode yang dalam pikiranku adalah periode 157. Mungkin ada yang penasaran dengan angka 157 ini adalah nama sekolahku yakni SMA Negeri 157 Rappang. Sekolah yang telah memberikan ilmu pengetahuan tidak hanya pengetahuan umum tapi yang lebih penting adalah sikap dan prilaku termasuk kebersamaan dan persaudaraan kami yang sampai sekarang masih terasa. Pertemanan diantara kami sangat begitu dekat, sehingga ada rasa kangen yang senantiasa hadir dalam pikiranku setiap aku membuka beberapa keeping photo-photo masa lalu yang sudah mulai usang termakan oleh waktu.
Awal kebersamaan kami disaat kami dari berbagai SMP dari seputar berbagai kecamatan di Kab. Sidenreng Rappang (Sidrap) Sulawaesi Selatan khususnya diseputar kota Rappang dimana pada saat itu merupakan kota terbesar kedua setelah Pangkajene. Ada yang dari Kecamatan Pancarijang, Baranti, Carawali, Aressie, Pancalautang bahkan ada yang dari Cakke, Maroangin dll, kami semua berkompetisi masuk ke SMA Negeri 157 Rappang dimana pada saat itu merupakan SMA Favorit dan satu-satunya di Rappang, sehingga kalo tidak masuk diterima di SMAN 157 pasti harus ke swasta.
Dengan sistem seleksi berdasarkan Nilai Ebtanas Murni (NEM) maka terpilih kami sebagai putra-putri terbaik dari kecamatan bergabung di SMAN 157 sebagai pasukan 157. Ada suatu yang membanggakan kami sebagai pasukan 157 karena pemegang NEM tertinggi dari peringkat 1, 2 dan 3 dari provinsi Sulawasi Selatan adalah anggota pasukan 157 yakni Saya dan Saudariku Irmawati dan Saudaraku Alm Idham Khalid.
Saya sebagai peringkat 1 waktu itu terus terang saya agak kurang percaya diri dengan prestasi yang saya capai, karena saya bertemu teman-teman yang begitu pintar dan punya fasilitas yang cukup. Sementara saya hanya datang dari Keluarga yang “broken home” dimana untuk hidup sehari-hari saya harus mencari sendiri dengan bertani dan prestasi yang saya capai pun hanya berjalan begitu saja, sama sekali tidak pernah bermimpi untuk itu. Tapi seiring dengan berjalannya waktu perasaan itu berangsur-angsur hilang karena saya punya teman yang cukup baik dan saling peduli terutama My Sister Irma yang sering sekali meminjamkan bukunya dan My BrotherAlm. Idham yang memberikanku pelajaran spiritual dalam hal keagamaan.
Kami semua di Pasukan 157 mempunyai karakter yang unik satu sama lain ada yang kutu buku, ada yang ustadz tapi pintar, ada yg sedikit “urakan”, ada yang penyendiri, ada yang pemusik, ada pemain basket, bahkan ada yang preman (sering berantem antar geng), walaupun demikian tidak pernah ada permusuhan diantara kami. Contohnya Seringnya berantem antara preman Rappang Mandolay dgn Preman Baranti “Ladosa” atau apalah namanya, dimana anggota gank mandolay adalah Basri atau panggilannya Lallido, Basri sebagai pasukan 157 sangat melindungi dan menyayangi kami karena kebetulan sekolah kami ada di wilayah SMAN 157. Untuk itu ijinkan saya melalui tulisan ini mengucapkan terima kasih buat Basri (Lallido), saya tidak tahu apakah dia masih hidup atau tidak, tapi saya pernah dengar kabar buruk bahwa beliau sdh tidak ada.
Pasukan 157 juga dibimbing oleh guru-guru yang hebat yang tidak hanya mengajarkan pelajaran tetapi mengajarkan budi pekerti, kami tidak pernah dikejar-kejar mengenai target yang cukup tinggi, tapi prosesnya benar-benar tdk pernah kami dilepaskan. Kami diajarkan untuk tidak pernah menyerah dalam kondisi apapun. Walaupun kondisi sekolah kami benar-benar minim apalagi setelah pindah ke tengah sawah dan keterbatasan fasilitas kita tetap didorong dan dimotivasi untuk maju. Terima kasih Bapak dan Ibu Guru, saya tahu diantara mereka sdh banyak yang sudah tidak ada, tapi percayalah Bpk dan Ibu Guru kami yang tercinta doa kami selalu menyertai kalian semua.Terus terang apa yang telah Bpk/Ibu Guru telah berikan kepada kami rasanya kami tidak akan mampu membalasnya.
Setiap karakter di Pasukan 157 dan Bapak dan Ibu Guru banyak memberikan inspirasi buatku sampai saat ini, dan apapun yang kita capai saat ini adalah bagian dari proses di Pasukan 157 dan bimbingan guru-guru yang luar biasa. Oleh karena itu saya mohon doanya dan bantuannya untuk meramaikan komunitas Pasukan 157 ini, mungkin teman-teman punya cerita atau apapun itu mohon dapat diberikan comment.
Semoga tulisan yang singkat ini dapat mengingatkan masa lalu yang telah membuat kita semua seperti saat ini.
Saya akan melanjutkan tulisan ini untuk setiap inspirasi yang muncul di pikiranku.
Saya tidak pernah berfikir untuk meninggalkan Malang, kota yang sangat menyenangkan.. Udaranya yang sejuk yang senantiasa menyejukkan pikiran dan hati-hati.
an saja udaranya yang sejuk

