Arsip | Bijak Teknologi RSS feed for this section

“JABULANI”, Bola Resmi Ajang Sepak Bola Piala Dunia 2010 Afrika Selatan

25 Jun

Nama “JABULANI” berasal dari bahasa asli isiZulu, salah satu bahasa resmi sebelas Republik Afrika Selatan, yang dituturkan oleh hampir 25% dari populasi. Secara harfiah diterjemahkan, “JABULANI” berarti “untuk merayakan”. Sepak bola adalah gairah yang menyatukan dunia. Nama dari bola yang digunakan akan menjadi titik perhatian bagi seluruh penikmat sepak bola dari seluruh dunia pada Piala Dunia Aprika Selatan.

Desain:

Sebelas warna berbeda digunakan di Adidas “JABULANI”, menunjukkan bola Piala Dunia Adidas kesebelas . 11 warna ini mewakili 11 pemain di setiap tim, 11 bahasa resmi Afrika Selatan dan 11 masyarakat Afrika Selatan yang membuat satu negara dari negara yang paling majemuk etnologis di benua Afrika. Desain penuh warna menyatukan keragaman yang luar biasa dari negara dalam kesatuan yang harmonis. Empat elemen desain berbentuk segitiga pada latar belakang putih memberikan tampilan yang unik dalam roh Afrika. Dan seperti fasad luar Johannesburg Stadion Soccer City, elemen desain individu juga menangkap colorfulness Afrika Selatan.

Bentuk panel 3-D panel:

The bola pertandingan untuk piala dunia FIFA 2010 fitur-fiturnya sepenuhnya baru, ground-breaking technology. Delapan bentuk spherical 3-D EVA dan TPU panels are disatukan secara harmonis membungkus bagian dalam bola. Hasilnya adalah suatu unit energik dikombinasikan dengan kebulatan sempurna. Setelah tes pertama, pemain di seluruh dunia antusias dan menjanjikan banyak gol dengan bola baru..

Apa kata pemain:

Michael Ballack: “Fantastic, bola ini bener-benar memberikan apa yang saya inginkan.”

Petr Cech: “Anda dapat merasakan energi yang dateng didepan anda, seperti tembakan”

Frank Lampard: “Bola yang sangat kuatl, enak ditendang.”

Kaká: “Bagi saya, kontak dengan bola adalah yang paling penting, dan itu luar biasa dalam bola ini.”

Alur Aero:

Alur Aero membuat profil jelas pada permukaan bola. Lingkaran profil Grip’n'Groove di seluruh bola menghasilkan aerodinamis yang optimal. Alur terintegrasi memberikan karakteristik terbang yang tak tertandingi, paling stabil dan akurat dari bola Adidas yang pernah ada. Kinerja lapangan “Jabulani” telah dikonfirmasi dalam tes perbandingan menyeluruh di Loughborough University di Inggris dan cek yang tak terhitung jumlahnya di terowongan angin dan laboratorium sepak bola Adidas di Scheinfeld, Jerman.

Grip:

Sejak diperkenalkannya permukaan bola “goose bumps” pada Kejuaraan Eropa lalu, microtexture kulit luar bola baru juga telah diberi facelift. The Jabulani memiliki tekstur futuristik dengan cengkeraman yang fantastis, pemain dapat mengendalikan kontrol bola secara penuh penuh bola dalam semua kondisi cuaca.

Adidas selalu melibatkan atlet kelas dunia dalam pengembangan dan pengujian produk-produknya. Untuk Jabulani Adidas, mitra Adidas seperti AC Milan, FC Bayern Munchen, dan Orlando Pirates Ajax Cape Town menguji bola pada tahun 2008, memberikan kontribusi untuk perbaikan struktur permukaan dan komposisi bahan. Keterlibatan pemain akan membantu memberikan produk sepakbola terbaik ke pasar kedepan.

BPM: Solusi untuk Meningkatkan Performa Proses Bisnis

25 Jun

Pada tulisan sebelumnya kita melihat bagaimana BPM telah menjadi tren baru di industri software (perangkat lunak). Pesatnya perkembangan pasar BPM telah menarik perhatian perusahaan-perusahaan software dunia. IBM, Oracle, BEA, Microsoft, TIBCO, dan Saltanera adalah beberapa ISV (Independent Software Vendor) yang memutuskan untuk masuk dan bertarung di arena BPM. Pada tulisan kali ini kita akan mencoba membahas apakah sebenarnya yang dimaksud dengan BPM. Tulisan ini adalah pembuka untuk tulisan-tulisan lain yang akan menggali definisi BPM secara lebih dalam.

Definisi BPM/Business Process Management/Manajemen Proses Bisnis?

Secara sederhana, BPM dapat didefinisikan sebagai perangkat lunak yang disediakan untuk membantu organisasi dalam mengelola proses bisnis yang dimilikinya mulai dari tahap perancangan, lalu otomasi (komputerisasi), kemudian eksekusi, hingga tahap monitoring. Tahapan-tahapan tersebut dikenal sebagai siklus hidup proses.

Masih banyak yang beranggapan BPM hanyalah kelanjutan dari tool-tool proses bisnis yang telah ada sebelumnya. Sebenarnya BPM jauh “lebih luas” dibandingkan tool-tool tersebut. BPM bukanlah sekedar tool proses bisnis model baru. Berikut ini tool-tool proses bisnis yang dianggap sebagai “pendahulu” BPM:

  • Workflow Management
  • EAI (Enterprise Application Integration)
  • Six Sigma
  • BPR (Business Process Reengineering)
  • ERP (Enterprise Resource Planning)

Hampir semua software BPM dibangun dengan menggunakan bahasa pemrograman Java dan .NET. Namun demikian saat ini sudah mulai ada teknologi BPM yang dibangun dengan menggunakan bahasa pemrograman web “murni”, yaitu PHP. Pada tulisan yang akan datang kita akan coba membahas mengenai tren bahasa pemrograman yang digunakan pada teknologi BPM.

Siklus Hidup Proses Bisnis Sebelum Datangnya BPM

Untuk dapat memahami apa BPM itu sebenarnya, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu siklus hidup yang biasanya dilalui oleh sebuah proses bisnis sebelum datangnya BPM. Setelah itu kita akan melihat bagaimana pengaruh BPM terhadap siklus hidup proses bisnis. Gambar di samping adalah contoh siklus hidup yang “biasa” terjadi pada sebuah proses bisnis. Ada 4 tahapan yang dilalui oleh suatu proses bisnis, yaitu:

  1. Perancangan proses oleh business analyst
  2. Komputerisasi proses (pembangunan software) oleh software developer
  3. Eksekusi proses oleh end-user (karyawan, mitra, pelanggan)
  4. Analisa jalannya proses (monitoring) oleh business analyst

1. Perancangan Proses Bisnis Tanpa BPM

Sebagaimana ditunjukkan oleh gambar di atas, siklus sebuah proses dimulai pada tahap perancangan. Pada tahap ini seorang business analyst akan merancang proses bisnis yang ingin diimplementasi baik dengan memanfaatkan berbagai tool yang ada (misalnya Microsoft Visio) ataupun hanya dengan bermodalkan kertas. Business analyst akan berusaha keras agar rancangan proses yang dihasilkan dapat berjalan secara optimal pada saat diimplementasi.

Untuk itu pada saat perancangan ia akan mempertimbangkan berbagai faktor yang dapat mempengaruhi jalannya proses bisnis itu nantinya, misalnya:

  • Jumlah SDM (Sumber Daya Manusia) yang dimiliki perusahaan
  • Alokasi biaya untuk proses tersebut
  • Metode pembagian tugas
  • Waktu pengerjaan untuk setiap stage pada proses

Banyaknya faktor yang harus diperhitungkan membuat perancangan sebuah proses bisnis menjadi cukup rumit dan bisa memakan waktu hingga berminggu-minggu.

2. Pembangunan Software (Komputerisasi Proses Bisnis) Tanpa BPM

Setelah proses bisnis berhasil dirancang, maka tahap selanjutnya adalah mengkomputerisasi (meng-online-kan) proses tersebut. Komputerisasi proses adalah pembangunan perangkat lunak yang merupakan representasi dari proses tersebut. Komputerisasi proses cenderung dilakukan oleh perusahaan sebagai solusi untuk meningkatkan performansi proses. Tahapan ini dilakukan oleh profesional IT (karyawan di divisi IT ataupun outsourcing ke perusahaan software).

Dengan adanya komputerisasi proses maka proses bisnis tidak lagi berjalan secara manual. Form-form yang tadinya berbentuk kertas akan diubah menjadi form-form dalam format digital pada layar monitor yang dapat diisi dengan menggunakan keyboard. Jalannya perangkat lunak tentunya akan sesuai dengan flowchart yang telah dibuat oleh business analyst. Tahap pembangunan software ini dapat memakan waktu hingga berbulan-bulan.

3. Eksekusi Proses Bisnis Tanpa BPM

Setelah software berhasil dibangun maka selanjutnya software tersebut akan segera diimplementasi agar dapat dieksekusi. Pada tahap eksekusi, end-user (karyawan, mitra, pelanggan) akan dapat memulai (meng-initiate/men-trigger) suatu proses bisnis dan berkolaborasi dengan pengguna lain yang terlibat pada pada proses tersebut.

Sebagai contoh, katakanlah sebuah perusahaan telah mengkomputerisasi proses Pengadaan Barang (procurement) yang dimilikinya dengan cara membeli (ataupun membangun sendiri) software Pengadaan Barang (e-procurement). Maka untuk dapat mengajukan permohonan pengadaan barang, seorang karyawan tidak perlu lagi mengisi form berbentuk kertas. Mereka tinggal mengisi form digital yang dapat diakses pada alamat web tertentu dengan menggunakan web browser (Mozilla Firefox, Internet Explorer, Opera, dll). Setelah form diisi maka selanjutnya form yang telah diisi akan secara otomatis di-routing oleh software procurement tersebut kepada karyawan lain yang berwenang (misalnya supervisor). Routing tersebut tentunya sesuai dengan flowchart proses procurement yang telah dirancang sebelumnya.

4. Evaluasi Jalannya Proses Bisnis Tanpa BPM

Setelah komputerisasi proses bisnis tersebut berjalan maka selanjutnya business analyst akan melakukan evaluasi jalannya proses (monitoring). Proses tersebut mungkin tidak berjalan sesuai yang diharapkan. Business analyst akan mendapatkan berbagai fakta baru yang mungkin belum terpikirkan sebelumnya. Misalnya adanya bottleneck pada situasi tertentu (busy hour), kekurangan SDM, dsb. Dari hasil evaluasi yang dilakukan, maka business analyst dapat memutuskan apakah proses bisnis yang dirancangnya akan diubah atau tidak. Perubahan dapat dilakukan misalnya dengan mengubah flowchart, menambah alokasi SDM, dan lain sebagainya.

Siklus Hidup Proses Bisnis Setelah Datangnya BPM

Kita telah melihat siklus hidup dari sebuah proses sebelum datangnya BPM. Sekarang kita akan melihat bagaimana pengaruh BPM terhadap siklus hidup sebuah proses. Jika kita amati, BPM sebenarnya tidaklah mengubah siklus dari sebuah proses bisnis. Yang dilakukan BPM “hanyalah” mempermudah pengguna dalam setiap tahapan siklus dan mempercepat perpindahan antara masing-masing tahap. Gambar di samping menunjukkan siklus proses bisnis dan kaitannya dengan BPM.

1. Perancangan Proses Bisnis dengan BPM

Sebagaimana sebelum datangnya BPM, siklus sebuah proses diawali dengan tahap perancangan yang dilakukan seorang business analyst. Namun kali ini business analyst melakukannya dengan menggunakan tool perancangan (process modeler) yang disediakan oleh software BPM. Tool ini tidak hanya menyediakan sarana untuk menggambar flowchart melainkan juga simulasi jalannya flowchart tersebut. Hal ini sangat membantu business analyst karena ia dapat memprediksi jalannya proses dengan lebih akurat.

Berikut ini beberapa hal yang dapat dilakukan dengan mudah menggunakan process modeler:

  • Membuat berbagai skenario simulasi untuk untuk menguji performansi sebuah proses pada berbagai kondisi yang berbeda. Seorang business analyst dapat, misalnya, membandingkan performansi proses penjualan (sales) ataupun proses purchasing pada kondisi sibuk (busy hour) dan kondisi normal
  • Memprediksi jumlah antrian (queue) yang mungkin timbul pada sebuah stage dari suatu proses
  • Memprediksi jumlah SDM yang dibutuhkan untuk menghindari bottleneck
  • Memprediksi biaya yang dibutuhkan oleh suatu proses

Hal tersebut tentunya akan sangat mempermudah business analyst. Pekerjaan perancangan yang tadinya memakan waktu berminggu-minggu sekarang dapat dilakukan dalam hitungan hari (bahkan jam). Walaupun waktu pengerjaan menjadi jauh lebih cepat, hasil yang diperoleh justru menjadi jauh lebih akurat.

2. Pembangunan Software (Komputerisasi Proses Bisnis) dengan BPM

Setelah datangnya BPM, tahapan pembangunan software (komputerisasi proses) juga menjadi jauh lebih cepat. Pembangunan software workflow yang tadinya memakan waktu hingga berbulan-bulan sekarang dapat dilakukan dalam hitungan minggu. Bahkan beberapa software BPM dapat mengotomasi proses yang sederhana, misalnya pengajuan cuti, dalam hitungan menit (kurang dari 1 jam). Hal ini dikarenakan BPM telah menyediakan tool pembangunan software yang dapat mempermudah pekerjaan software developer. Tool tersebut adalah Process IDE (Integrated Development Environment). Process IDE adalah RAD (Rapid Application Development) Tool yang menyediakan berbagai fitur yang dapat mempermudah pembangunan komputerisasi proses. Contoh fitur yang disediakan oleh process IDE adalah:

  • Drag-and-drop form designer
  • Drag-and-drop report designer
  • Source code editor dengan fasilitas syntax highlighting
  • Workflow framework
  • Database designer yang mendukung berbagai basis data (Oracle, SQLServer, PostgreSQL, MySQL, dsb)

3. Eksekusi Proses Bisnis dengan BPM

Masih sama dengan sebelum BPM datang, software yang telah dibangun akan diimplementasi agar dapat digunakan oleh end-user (karyawan, pelanggan, dan mitra). Apakah perbedaan antara komputerisasi proses yang dibangun sebelum datangnya BPM dan sesudah datangnya BPM?

Setelah datangnya BPM, hubungan antar proses yang sudah dikomputerisasi akan menjadi lebih terintegrasi dan dapat diakses melalui Process Portal. Adanya integrasi antar proses sangatlah banyak manfaatnya. Salah satu keuntungan terbesar adalah adanya mekanisme load balancing (pembagian tugas) yang lebih baik. Pembagian tugas antar karyawan di sebuah perusahaan akan menjadi lebih “adil”. Pembagian tugas tersebut diatur secara otomatis oleh engine dari software BPM.

Keuntungan lainnya adalah kemudahan penggunaan. Biasanya setiap aplikasi (proses yang dikomputerisasi) dibangun oleh vendor yang berbeda serta memiliki alamat dan halaman login yang berbeda pula. Karena dibangun oleh vendor yang berbeda maka cara penggunaan setiap aplikasi pun akan berbeda pula. Akibatnya, aplikasi-aplikasi tersebut menjadi “liar” dan sulit untuk digunakan. Dengan adanya BPM, semua proses yang telah dikomputerisasi dapat diakses pada alamat yang sama dan memiliki “look-and-feel” yang sama pula.

Tentunya masih banyak keuntungan lain dari adanya integrasi tersebut. Kita akan membahasnya pada tulisan yang lain.

4. Evaluasi Jalannya Proses Bisnis dengan BPM

Setelah proses diimplementasi maka selanjutnya business analyst akan mengukur kinerja (performansi) dari proses tersebut. BPM memiliki tool khusus yang menyediakan berbagai data statistik (built-in) dari seluruh proses yang telah diimplementasi baik yang sedang berjalan maupun yang telah selesai. Tool tersebut adalah Process Monitor.

Dengan adanya Process Monitor kita tidak perlu lagi membangun modul (ataupun fitur) tambahan untuk menghitung performansi sebuah proses. Semua proses yang diotomasi dengan menggunakan BPM akan secara otomatis dimonitor oleh Process Monitor. Data-data performansi tersebut akan disimpan dan dapat kita lihat kapanpun.

Data-data yang disediakan oleh Process Monitor diantaranya adalah:

  • Bottleneck pada suatu proses
  • Beban (load) setiap orang pada suatu proses
  • Biaya dari sebuah proses
  • Kinerja karyawan yang terlibat pada proses
  • Utilitas proses
  • Dsb.

Kesimpulan

Informasi-informasi di atas memperlihatkan manfaat dan keuntungan yang diberikan oleh BPM. BPM membantu kita untuk mengelola proses bisnis dengan lebih baik. Pada tulisan-tulisan yang akan datang kita akan membahas lebih dalam mengenai teknologi BPM. Kita juga akan membahas fitur-fitur yang biasanya disediakan pada software BPM secara lebih detil.

Seberapa Pentingkah SOA untuk Perusahaan Anda?

22 Jun

Dunia bisnis senantiasa berubah secara dinamis. Kompetitor bertambah banyak, konsumen semakin kritis dan selalu menuntut lebih terhadap pelayanan, regulasi pemerintah yang sering berubah, lesunya pasar global, daya beli masyarakat menurun, biaya operasional yang terus membengkak dan tuntutan karyawan atas kesejahteraan mungkin adalah sebagian tantangan yang dihadapi para pelaku bisnis saat ini. Untuk menjawab beberapa tantangan tersebut, IT memiliki peran yang tidak bisa dianggap remeh. Perusahaan biasanya akan mengotomasi sebagian proses bisnisnya, meng-online-kan beberapa prosedur kerja, dan mengkomputerisasi beberapa tugas rutin sehari-hari karyawannya.

Karena biasanya perusahaan dalam membuat aplikasi-aplikasi tersebut bersifat tambal sulam dan kurang integral, maka dampaknya adalah semakin lama perusahaan akan semakin banyak memiliki aplikasi-aplikasi yang berbeda-beda, baik dari segi teknologi yang dipakai, standardisasi yang digunakan, cara pemakaian, maupun vendor pembuatnya. Hal ini seiring bertambahnya waktu justru akan menjadi bumerang tersendiri bagi perusahaan, terutama ketika kebutuhan integrasi informasi semakin mendesak, seperti yang terjadi saat ini.

Masalah integrasi antar aplikasi (baca: data dan informasi) saat ini memang telah menjadi isu yang cukup serius, khususnya bagi perusahaan-perusahaan berskala enterprise. Biasanya pendekatan yang dipakai untuk mengatasi masalah ini adalah dengan melakukan integrasi secara “point-to-point” antara dua aplikasi yang akan disambungkan, yaitu disediakan semacam “interface” agar dua buah aplikasi tersebut dapat berkomunikasi secara langsung satu sama lain. Metode ini tentunya bukanlah solusi yang ideal, karena biasanya solusi ini tidak menggunakan standardisasi khusus, pengerjaannya cukup kompleks, dan membutuhkan biaya modifikasi yang tidak sedikit.

Service-oriented architecture atau yang biasa disebut SOA merupakan solusi alternatif yang patut dipertimbangkan secara serius oleh para CIO untuk mengatasi problema-problema di atas. SOA menawarkan sebuah infrastruktur yang lebih baik dengan kemampuan integrasi yang sudah terkelola, yang tentunya akan berdampak pada meningkatnya reliability, kemudahan pertukaran informasi antar aplikasi, mengurangi pengaruh jika terjadi perubahan, dan yang tidak kalah pentingnya adalah dapat menekan biaya-biaya untuk keperluan integrasi dan modifikasi aplikasi.

SOA merupakan suatu arsitektur dimana komponen-komponen dari aplikasi software yang telah dibuat dapat juga kita sediakan sebagai services di jaringan, sehingga dapat dipakai atau dimanfaatkan untuk keperluan lain oleh aplikasi yang berbeda-beda. Pada SOA, pembangunan suatu aplikasi baru dapat diibaratkan sebagai proses mix-and-match, yaitu pertama kita akan menentukan aplikasi yang dibutuhkan, kemudian mencari komponen-komponen apa saja yang dapat dimanfaatkan yang telah tersedia di jaringan, dan selanjutnya kita menggabungkannya untuk menjadi suatu aplikasi yang sama sekali baru. Itulah mungkin gambaran singkat dari SOA, dan kenyataan sebenarnya tentunya tidaklah semudah dan sesederhana itu. Dan penjelasan SOA secara detil tidak akan dibahas pada kesempatan ini, mungkin pada artikel-artikel berikutnya.

SOA yang saat ini tengah menjadi solusi yang cukup populer, sebenarnya bukanlah teknologi dan ide baru. Konsep-konsep yang sejenis sebenarnya telah muncul dari pertengahan 1980-an. Distributed Computing Environment (DCE) dan Common Object Request Broker Architecture (CORBA) adalah salah satu usaha yang pernah muncul, tapi kurang begitu populer karena berbagai sebab, diantaranya adalah tidak tersedianya middleware atau Application Programming Interfaces yang standar. Dan selanjutnya datanglah Web services yang kemudian secara perlahan dapat merubah keadaan tersebut. Arsitektur dasar Web services sebenarnya sangatlah mirip dengan konsep SOA, dan pendapat ini juga didukung oleh para analyst dan kalangan pembuat aplikasi perangkat lunak yang percaya bahwa masa depan Web services sendiri justru adalah SOA.

SOA saat ini memang menjadi konsep yang begitu populer di kalangan para eksekutif perusahaan. Hal ini bisa dilihat dari berbagai hasil riset yang telah diadakan oleh oleh sejumlah lembaga riset di dunia. IDC, sebuah perusahaan riset terkenal, baru-baru ini telah mengeluarkan hasil risetnya terhadap pandangan para eksekutif di Asia tentang perlunya penerapan SOA di perusahaannya. Hasilnya cukup mencengangkan, sekitar 84% responden menyatakan bahwa penerapan SOA sudah ada pada tahap ‘penting’ dan ’sangat penting’. Hasil ini menguatkan survey serupa terhadap para eksekutif di Amerika Serikat dan Eropa, dimana sekitar 75% dari mereka juga menyatakan hal yang sama tentang SOA.

Yang menarik adalah ternyata “demam” SOA juga telah melanda Indonesia. Beberapa perusahaan besar telah concern terhadap masalah pengembangan dan penerapan SOA ini di lingkungan internal mereka. Yang lebih menarik lagi adalah Pemerintah Indonesia juga tidak mau kalah. Hal ini setidaknya diwujudkan oleh 5 Kementerian, termasuk Depkominfo, yang mendukung proyek open source untuk mengembangkan solusi SOA yang dinamakan PASIR (Program Arsitektur Sistem Informasi dan Interope(R)abilitas). Setidaknya itulah sedikit informasi yang saya tahu dari media, karena saya memang kurang mengikuti perkembangan proyek PASIR ini.

Pertanyaan yang mungkin muncul di benak kita selanjutnya adalah apa sebenarnya yang ditawarkan oleh SOA sehingga menjadikannya sebagai “standar” baru dalam pembangunan solusi enterprise? Ada sejumlah faktor yang menyebabkan perusahaan-perusahaan melirik SOA. Faktor utama adalah jelas, penghematan biaya. Ketika kita dapat menggunakan kembali service-service yang telah dibuat untuk membangun suatu aplikasi baru, maka secara otomatis kita akan mampu menekan penggunaan waktu dan uang secara signifikan.

Jason Bloomberg, Senior Analyst di perusahan riset ZapThink mengatakan, Web services saat ini utamanya digunakan untuk “solving point-to-point integration problems.” Tapi harus diakui juga bahwa Web services tidak akan mampu mengatasi masalah integrasi untuk kasus yang lebih besar, seperti mengkonversi ratusan sistem menjadi sebuah arsitektur enterprise tunggal. Karena alasan ini pulalah mengapa SOA dibutuhkan. Memang masih ada beberapa faktor lagi, tapi dua hal tersebut di atas merupakan faktor kunci yang cukup dominan.

Penutup

Dari salah satu riset diketahui bahwa lebih dari 70% eksekutif perusahaan mengatakan mereka membutuhkan SOA untuk memudahkan integrasi, sementara itu lebih dari 60% mengatakan mereka mengadopsi SOA karena mereka meyakini bahwa SOA dapat meningkatkan fleksibilitas bisnis mereka. Hal tersebut memang sangat sesuai dengan “janji” SOA yaitu:

  • Integrasi aplikasi dengan lebih simpel dan cepat, dan
  • Memudahkan penggunaan dan pemanfaatan sumber daya IT untuk men-support proses bisnis.

Jadi untuk menjawab pertanyaan seberapa pentingkah SOA untuk organisasi Anda, Anda perlu bertanya terlebih dahulu kepada diri sendiri apakah perusahaan Anda saat ini sudah membutuhkan “manfaat-manfaat” SOA di atas untuk menyelesaikan masalah yang ada saat ini?

Kuliah di Harvard University Secara Gratis

19 Mar

Dulu, menikmati kualitas pendidikan Amerika hanya mimpi. Kini, berkat kemajuan teknologi segalanya menjadi mungkin.

Anda tentu penasaran bagaimana isi dan metode belajar perguruan tinggi Amerika seperti harvard University, Massachusetts Institute of  Technology (MIT) atau Yale University. Kini tintaskan penasaran anda kapan saja dan dimana saja melalui internet.

Ya semua mungkin karena beberapa perguruan tinggi di Amerika menyediakan kursus online gratis dengan menggunakan istilah open course ware. Sistem ini memungkinkan semua orang didunia mengunduh bahan-bahan kuliah perguruan tinggi top seperti Harvard University.

Berikut beberapa situs yang dapat anda kunjungi :

http://academicearth.org

http://www.ocw.mit.edu

http://oyc.yale.edu

Selamat buat adik-adik yang sedang mengikuti UNAS, semoga sukses semuanya….

Raksasa-Raksasa Software Menyerbu Pasar BPM

13 Mar

Istilah BPMS (Business Process Management System) mungkin masih sangat asing bagi mayoritas software developer di Indonesia. Secara sederhana, BPMS dapat diartikan sebagai software yang digunakan untuk membantu pengelolaan (manajemen) proses bisnis pada perusahaan. Untuk dapat menjelaskan BPMS secara detil dalam tulisan kali ini sangatlah sulit mengingat demikian luasnya materi tersebut. Karena itu saya akan mencoba untuk menulis mengenai BPM (Business Process Management) dan BPMS secara cukup detil. Pada tulisan kali ini, kita akan menitikberatkan pembahasan kita pada “aksi-aksi penyerbuan” yang dilakukan oleh para raksasa software dunia.

Gambaran Mengenai Pasar BPM

Saat ini perhatian mayoritas pengembang perangkat lunak (software developer) dan dunia korporasi masih tertuju pada teknologi-teknologi yang telah cukup lama populer, misalnya ERP dan CRM. Banyak yang masih belum menyadari hadirnya pendatang “baru” di dunia IT yang telah diprediksi akan menjadi The Next Big Thing. Pendatang baru tersebut adalah BPMS.

Menurut prediksi Forrester Research, pasar BPMS (Business Process Management Suite) akan berkembang dari $1,2 miliar pada tahun 2005 melonjak menjadi $2,9 miliar pada tahun 2009. Hal senada juga dipaparkan oleh Gartner. Perusahaan riset independen tersebut memprediksi bahwa hingga tahun 2009 pasar BPM akan mengalami pertumbuhan sebesar 14 persen setiap tahunnya dimana ini berarti BPM akan menjadi pasar perangkat lunak dengan pertumbuhan tercepat kedua setelah security.

Berbagai fakta menarik mengenai perkembangan BPM telah mendorong berbagai perusahaan untuk membuat software BPMS. Namun, mayoritas vendor BPMS pada masa awal perkembangan BPMS masih didominasi oleh perusahaan-perusahaan software berskala menengah. Pada tahun 2004 lalu, hal ini mulai berubah. Nama-nama besar di industri software mulai memberikan perhatian lebih pada BPMS.

Akuisisi oleh TIBCO, Oracle, BEA, dan IBM

Salah satu raksasa pertama yang masuk ke arena BPM adalah TIBCO. Pada bulan April 2004 perusahaan ini mengakuisisi perusahaan software asal Inggris, yaitu Staffware senilai $217 juta (dalam bentuk stock dan cash). Staffware dikenal sebagai vendor BPM dan workflow dimana mayoritas (lebih dari 50%) kliennya berasal dari industri perbankan (bank-bank).

Dua bulan kemudian, bulan Juni 2004, Oracle pun mengambil langkah serupa. Raksasa yang terkenal dengan produk database dan E-Business Suite ini mengambil langkah strategis dengan mengakuisisi Collaxa. Collaxa adalah sebuah perusahaan startup di California yang didirikan pada tahun 2000. Angka akuisisi tersebut tidak dipublikasikan.

Seakan tidak mau kalah, pada bulan Maret 2006, BEA juga melakukan akuisisi untuk masuk ke pasar BPM. Kali ini, perusahaan yang menjadi target akuisisi adalah Fuego. Akuisisi tersebut juga dimaksudkan untuk mempermulus langkah BEA untuk menunjukkan eksistensinya di dunia SOA (Service Oriented Architecture). Untuk dapat membeli Fuego, BEA akhirnya mengeluarkan uang sebesar $87 juta (cash).

Pada bulan Oktober 2006 lalu IBM pun mengikuti langkah raksasa lainnya dengan mengakuisisi FileNet yang juga memiliki produk BPMS (di samping produk-produk lainnya). FileNet adalah perusahaan publik yang bermarkas di California. Angka akuisisi FileNet terbilang sangat menggiurkan, IBM perlu merogoh kantongnya dan mengeluarkan uang sebesar $1,6 miliar (cash) untuk membeli saham FileNet dengan harga $35 per saham. Jika kita asumsikan $1 = Rp 9.000 maka jumlah uang yang harus dikeluarkan IBM adalah sebesar lebih dari Rp 14 triliun.

Dengan jumlah sebesar itu, mungkin kita jadi teringat akuisisi YouTube (penyedia layanan video sharing) seharga $1,65 miliar (stock) yang dilakukan oleh Google pada bulan yang sama (Oktober 2006). Namun tingginya nilai akuisisi FileNet, sebuah perusahaan yang baru berusia 24 tahun, sebenarnya sangatlah beralasan. Hal ini dikarenakan annual revenue FileNet pada tahun sebelumnya adalah sebesar $422 juta. Angka tersebut hampir dua kali lipat nilai akuisisi Staffware oleh TIBCO.
Saltanera, perusahaan tempat saya bekerja saat ini, juga telah melihat potensi BPMS sejak tahun 2003 lalu. Hal inilah yang membuat Saltanera memutuskan untuk masuk ke pasar BPM pada awal tahun 2004. Namun berbeda dengan TIBCO, Oracle, BEA, dan IBM, alih-alih melakukan akuisisi Saltanera memutuskan untuk membangun sendiri software BPM-nya. Hal serupa juga dilakukan oleh Microsoft yang berusaha menyediakan software BPM dengan cara menggabungkan berbagai software yang telah dimilikinya.

Software BPM dan Tren Baru Dunia IT

Dengan berbagai fakta menarik di atas, tentunya sangat besar kemungkinan BPMS akan menjadi tren baru di dunia IT. Demikian besarnya jumlah uang yang harus dikeluarkan oleh pemain-pemain besar tersebut tentunya menjadi indikasi bahwa mereka akan all-out bertarung di pasar baru tersebut. Pada artikel mendatang, kita akan mencoba membahas mengenai BPM.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.