Saat SMP
Prestasiku waktu di SD tidak begitu bagus alias masih standarlah, hanya saja waktu di SMP saya sudah mulai mengerti arti belajar apa yang harus saya lakukan. Walaupun pada saat SMP ini saya sudah mulai menjalani masa-masa sulit untuk biaya sekolah dimana sudah harus ditambah biaya transportasi. Walaupun demikian saya tidak kehilangan semangat, saya menurunkan sepeda kumbang yang sudah karatan dari atas loteng. Kata Ibu saya, sepeda ini adalah sepeda H. Odding yang saat ini menjadi pengusaha terkenal dibawah bendera Sumber Tani, yang kemudian diberikan kepada Omku yang saat itu sdh kuliah di UNHAS. Saya bawalah sepeda kumbang ini ke bengkel yang kebetulan masih kakek saya, terus saya beli cat speda dengan harga 500 rp 1 kaleng, catnya berwarna biru, saya cat sepeda kumbangku menggunakan kuas, akhirnya slesailah sudah dan siap ditunggangangi.
Sebenarnya sih saya risih memakainya, dimana temanku menggunakan sepeda yang bagus-bagus dan bahkan naik sepeda motor, tapi apa boleh buat saya pasrah saja.
Karena tuntutan keadaan juga saya memberanikan diri untuk menggarap sepetak sawah punya Mama saya yang selama ini digarap oleh orang lain dengan sistem bagi hasil, dengan berbekal nekat tangan kecilku mengayungkan cangkul dan menggarap sawah yang biasanya dilakukan oleh orang dewasa. Waktu saya bener-benar habis pulang sekolah ke sawah, terkadang bangun pagi-pagi ke sawah juga. Terkadang saya menitik air mata betapa berat hidup yang harus saya jalani.
Pada saat kelas 3, sekolahku sudah mulai memberikan bimbingan intensif yang dilakukan di sore hari, tentu saja ini jadi masalah buat saya karena bentrok dengan jadwal saya ke sawah. Sehingga akhirnya saya memilih tidak ikut, saya belajar sendiri di rumah dengan menggunakan buku paket sekolah.
Dan tibalah pada saat UNAS, saya dapat mengerjakan soal dengan baik dan menjadi juara 1 tingkat kabupaten, ini merupakan prestasi yang saya sendiri tidak pernah berfikir sampai sejauh itu.
Kalau mau jujur saya sebenarnya malu dengan prestasi ini, kenapa karena begitu banyak orang yang datang ke rumah, pengen tahu siapa saya, sementara keseharian saya masih tetap harus menjalani rutinitas biasa ke sawah dll. Prestasi ini bukan berarti saya lepas dari rutinitas tersebut justru area sawah yang harus saya garap saya tambah lagi karena biaya SMA tentunya jauh lebih besar.
Pada saat itu saya sempat berpikir untuk menjadi orang yang tidak dikenal orang banyak, karena itu adalah beban moral buat saya.

