Cerita Inspirasiku dengan Kepala Sekolah SD ku
Saya terlahir di sebuah desa kecil di Pelosok Sulawesi Selatan yang terkenal dengan lumbung berasnya. Desa ini bernama Passeno, Kecamatan Baranti Kab. Sidrap. Di desa inilah aku dilahirkan dan dibesarkan dengan segala keterbatasan fasilitas dan prasarana yang ada.
SD Negeri 1 Passeno adalah nama sekolah dasarku, SD yang punya fasilitas yang sangat minim, gedung sekolah yang beralaskan tanah yang becek jika musim hujan, bangku dan meja belajar yang panjang bisa diduduki oleh 10 orang siswa secara berjejer yang terbuat dari batang pohon kelapa dibagi 2, dinding dari anyaman bambu yang mulai lapuk. Boro-boro bertaraf internasional bertaraf tradisional aja rasanya tidaklah masuk, soalnya ruang kelas kalo boleh dikatakan sangat tidak layak, bagaimana tidak satu ruang kelas diisi kelas 1 dan 2 dimana papan tulisnya dikasih garis pemisah dari kapur yang bertuliskan kelas 1 dan kelas 2.
Saya masih ingat Bapak Kepala Sekolahku yang bernama Bapak M. Nur almarhum, beliau merupakan sosok yang menampilkan sosok kebapakan bagi semua, walaupun terkadang galak dan sering mencubit perut kami apalagi kalo baju seragam tidak rapi. Tapi setelah perjalanan panjang yang kami lalui telah memberi arti yang sangat mendalam bagi kami. Terima Kasih Pak Nur, doa kami selalu menyertaimu.
Saya ada cerita lucu dan sedikit menyedihkan mungkin bersama beliau, dimana pada saat itu akan ada kunjungan Tim Diknas dari Ujung Pandang, dimana seperti biasa kami semua berlatih upacara, gerak jalan untuk menyambut petinggi diknas tersebut. Dan Tibalah pada saat Hari H, Tim beserta rombongan datang teman-teman sudah siap dengan tugasnya masing-masing, tiba-tiba Bapak Nur Kepala Sekolah kami memanggil 5 orang dari kami dan diberikan tugas khusus (kayak Kopasus gitu), beliau berkata ini tugas rahasia, kami semakin penasaran, rahasia apa ya! kami berlima saling bertatapan dan sedikit bingung. Terus Pak Nur menginstruksikan kepada kami berlima untuk melepas dua balok dari pohon kelapa yang menopang ruang kelas kami agar tidak rubuh pada saat upacara dimulai. Waduh ide gila juga ini pikirku, kalo sekolahnya roboh kami harus belajar dimana, yang ini aja 1 kelas buat 2 kelas alias 2 in 1 gimana kalo udah roboh. tapi karena kami tidak punya hak protes alias tidak berani maka kami berlima melakukan tugas rahasia tersebut.
Beberapa saat kemudian tibalah saat-saat yang dinantikan Tim Diknas sudah berjejer didepan mengikuti upacara bendera, bertepatan dengan selesainya penghormatan umum balok kayu dilepas yang dikuti suara gemeretak dan lentingan suara seng sekolah dan robohlah sekolah kami tim peninjau begitu kaget akan apa yang terjadi. Akhirnya meraka pulang dengan kesimpulan bahwa sekolah kami harus segera dibangun dengan dana Inpres.
Dari sini saya dapat menarik pelajaran bahwa kita harus berkorban untuk target dan tujuan yang lebih besar.
Saya menempuh pendidikan mulai dari SD, SMP dan SMA di Kabupaten Sidenreng Rappang Sulawesi Selatan. Setelah menamatkan SMA saya melanjutkan pendidikan di Universitas Hasanuddin jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik. Semasa kuliah saya sudah tertarik dengan dunia jurnalistik hal ini saya perkuat lagi dengan mengikuti kursus jurnalistik.
Beberapa kali saya mengirimkan tulisan ke media lokal waktu itu.
Tapi seiring dengan bergulirnya waktu hobby saya sdh lama sekali saya tinggalkan, mungkin karena kesibukan pekerjaan dll. alasan klise.
Tapi saat ini melalui blog Bijakkata ini saya mencoba untuk menekuni dunia tulis menulis alias jurnalistik, minimal bisa sharing informasi dengan anda-anda semua.



salam kenal ya mas.
salam kenal mas..