Akhir-akhir ini media massa baik cetak dan elektronik ramai membicarakan mengenai Mobil Esemka yakni mobil yang diproduksi oleh siswa-siswa SMK.
Suatu kebanggaan tersendiri bahwa putra-putri bangsa kita telah menghasilkan karya yang luar biasa. Sebenarnya Karya Mobil Esemka ini sudah lama dan sering dipamerkan bahkan pengajuan ijin serta uji layak jalannya pun juga sudah lama, dengar-dengar sih masih ada kendala di uji emisi gas buangnya.
Mungkin ada pertanyaan kalo sudah lama kok baru ramai-ramai sekarang..???
Sudah menjadi rahasia umum bahwa bangsa kita sejak jaman reformasi banyak dilanda demam oleh budaya “idol”, ada yang mengatakan pencitraan, popularitas atau mungkin bahas awamnya numpang beken. Ramainya pemberitaan Mobil Esemka berawal dari langkah Bapak Jokowi memesan 2 unit mobil esemka versi rajawali sejenis SUV dari SMK Surakarta, mobil ini untuk mobil dinas Bupati dan Wakil Bupati. Langkah yang diambil oleh Jokowi merupakan terobosan yang luar biasa karena sekian lama hasil karya anak bangsa ini sepertinya memang tidak ada yang mengangkat sehingga hanya terhenti di skala lab dan prototyping. Apa yang dilakukan oleh Jokowi langsung diberitakan oleh media dan menjadi berita nasional. Para pejabat dan tokoh politik ramai-ramai memesan unit mobil esemka, tentunya ini patut kita hargai tapi apakah benar ini yang diinginkan, apakah visi dan misi SMK itu sendiri.. Saya khawatir apabila SMK dibanjiri order mobil esemka, maka SMK sebagai lambaga pendidikan ini menjadi tidak fokus untuk menyiapkan anak didik yang cerdas dan kreatif sehingga menghasilkan cikal bakal tumbuhnya kemandirian bagi bagi bangsa kita.
Akankah Mobil Esemka menjadi Mobil Nasional ?
Jawabannya “Sangat Mungkin”, Tapi untuk mewujudkan mobil nasional tidak hanya dari sisi teknis tapi perlu ada keseriusan dari pemerintah untuk memukul gong sebagai tanda kick off proyek menuju mobil nasional. Pemerintah harus mempunyai komitmen akan mobil nasional tersebut karena ini sudah litas direktorat dan lintas departemen. MobilĀ nasional tidak bisa terwujud hanya dari SMK karena SMK sebagai lambaga pendidikan akan menyiapkan sumber daya manusia yang terampil dibidangnya tidak hanya otomotif tapi termasuk bidang lainnya. Pemerintah memberikan komitmen dengan regulasi yang mendukung mobil nasional, pihak swasta sebagai investor akan mendirikan pabrik dan menyiapkan segala sesuatunya dengan catatan tentunya ada jaminan jangka panjang bahwa bisnis ini akan sangat menguntungkan.
Untuk membuat mobil nasional secara teknis dengan local content 100% sangatlah bangsa kita mampu, jangankan mobil pesawat pun kita mampu buat. Tapi apa yang terjadi sekarang ini,apa yang dihasilkan oleh anak bangsa ini lebih cenderung terkerdilkan oleh keadaan, apa yang dihasilkan jika tidak ada muatan politiknya tidak akan diangkat. Tapi kalau itu akan mengangkat pencitraan dan bisa buat numpang beken ramai-ramai mendukung, walaupun kadang-kadang hanya panas-panas tahi ayam.


